Senin, 16 November 2015
SURAT BARNABAS DAN TENTANG MANI DAN ALBIGENSIAN
I: TENTANG SURAT BARNABAS
A: siapakah Barnabas:
Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Barnabas adalah murid terdekat Yesus. Kitab Suci mencatat bahwa murid yang dikasihi Yesus adalah Rasul Yohanes, yang pada saat perjamuan terakhir duduk di dekat Yesus dan bersandar dekat kepada-Nya (Yoh 13:23). Barnabas, yang asalnya bernama Yosef, dikatakan dalam Kitab Suci sebagai rasul (lih. Kis 13:43), seperti halnya Paulus, namun tidak termasuk dalam bilangan kedua belas rasul.
B: Garis Besar Isi dari Surat Barnabas:
Surat Barnabas menceritakan adanya gnosis (perfect wisdom) yaitu pengetahuan yang pasti akan rencana keselamatan. Terdiri dari dua bagian: 1) Bab 1-5: 4 adalah pengajaran/ peringatan, bahwa hari- hari yang jahat telah tiba, dan bahwa akhir dunia dan hari Penghakiman akan datang, dan para beriman yang telah dibebaskan dari hukum seremonial Yahudi, harus mempraktekkan kebajikan dan meninggalkan dosa. 2) Bab 5:5- bab 17 adalah bersifat spekulatif, untuk memberikan kebebasan umat Kristen dalam hal peraturan- peraturab Nabi Musa. Penulis menunjukkan bagaimana hukum Taurat harus dimengerti sebagai simbol kebijakan Kristiani dan institusinya, bagaimana Perjanjian Lama merupakan gambaran/ persiapan bagi kedatangan Kristus, sengsara-Nya dan Gereja-Nya. Sebelum mengambil kesimpulan, penulis mengulangi bagian pertama surat dengan mengutip penjabaran dari dokumen lain (the Didache) yaitu tentang kontras dua hal: jalan terang dan jalan kegelapan (bab 18- 20).
Surat Barnabas ini mempunyai karakter allegoris/ simbolis yang kuat, yang menurut para ahli kitab suci bahkan berlebihan sehingga cenderung menganggap PL sebagai semata- mata simbolis dan menolak arti literal PL dengan mengatakan bangsa Yahudi tidak pernah mempunyai perjanjian dengan Tuhan, dan bahwa sunat adalah pekerjaan Iblis, sehingga secara umum menentang tradisi Yahudi (lih. bab 7:3,11; 9:7, 10:10; bab 14).
Meskipun demikian, sebenarnya surat Barnabas ini tidak dituliskan untuk maksud polemik. Sebab cara penyampaiannya tentang Perjanjian Lama juga tidak dapat disamakan dengan interpretasi kaum Basilides dan Marcion yang menyalahgunakan tulisan ini. Surat Barnabas ini hanya merupakan semacam peringatan seorang pengajar agar umat tidak kembali ke ajaran seremonial Yahudi.
C: Sifat umum surat Barnabas:
Penulis menjabarkan kesalahan- kesalahan kaum Yahudi, secara khusus adalah kaum Ebionit (lih. bab 4:4,6; 5:5, 12:10, 14:1). Namun demikian ia tidak menyerang mereka, melainkan hanya menuliskan pendapatnya tentang Yudaism dan hukum-hukumnya. Penulis tidak menuliskannya kepada umat Kristen secara umum, tetapi kepada jemaat setempat yang daripadanya ia sendiri merasa terpisah (lih. bab 1:2,4; 21:7,9).
Dalam sudut pandang literatur, Surat Barnabas ini tidak menunjukkan penulisan yang baik, sebab dituliskan dengan gaya yang melelahkan (tedious), kurang menggunakan ekspresi, kurang dalam hal kejelasan, dan terdapat banyak ketidakcocokan. Namun dari segi dogmatik, yang terpenting adalah surat Barnabas ini menyebutkan/ mengutip Injil Matius sebagai Kitab Suci (bab 4:14).
Dalam hal Kristologi, surat ini mengembangkan doktrin soteriologi dan justifikasi yang diajarkan Rasul Paulus. Maka keliru jika disebutkan bahwa ia menganggap Kristus sebagai hanya roh/ jiwa saja di dalam gambaran Tuhan. Walau surat ini tidak menyatakan secara eksplisit bahwa Kristus sehakekat dengan Bapa, namun surat ini mengakui adanya keilahian Kristus yang sudah ada sebelum Penciptaan dunia. [Dan dengan demikian mengakui bahwa Kristus adalah Sang Sabda yang sudah ada bersama- sama dengan Bapa sebelum Penciptaan dunia].
II: KAPAN SURAT BARNABAS DITULISKAN:
Injil Barnabas (atau lebih tepat disebut sebagai surat/ homili Barnabas) telah dikenal pada sekitar abad ke 2 di Gereja Alexandria, karena diperkirakan memang dituliskan oleh seseorang dari jemaat Alexandria. Tidak ada tulisan lain dari para Bapa Gereja abad- abad awal yang mengkonfirmasi bahwa surat tersebut benar- benar dituliskan oleh Barnabas, sehingga siapa pengarang surat ini dan kepada siapa surat ini dituliskan secara khusus tidak diketahui dengan pasti.
Penggambaran tentang kontroversi ajaran Yahudi di sini dijabarkan sebagai sesuatu yang telah lampau di jemaat. Bab 16:3-5, menyebutkan adanya perintah rekonstruksi bait Allah di Yerusalem. Perintah ini diberikan oleh Kaisar Hadrian tahun 130, untuk menghormati Yupiter, untuk membangun kembali bait Allah yang telah dihancurkan oleh Kaisar Titus. Kaisar Hadrian juga melarang praktek sunat oleh orang Yahudi, seperti yang telah disebutkan secara implisit di surat ini, bab 9:4. Maka surat Barnabas ini diperkirakan dituliskan sekitar tahun 130-131 jadi jauh sesudah Injil sinoptik (Matius (38-45), Markus, Lukas (64-67).
Penulis surat ini kemungkinan adalah seseorang dari jemaat Alexandrian, yang menempatkan dirinya berseberangan dengan tradisi Yahudi, meskipun ia sendiri tidak selalu memahami ritus dari Nabi Musa (lih. Bab 7). Sampai abad ke-empat, surat ini dikenal hanya oleh Gereja di Alexandria. Dari tulisan Bapa Gereja Klemens dari Alexandria dan Origen, diketahui bahwa sekitar tahun 200, bahkan di Alexandria, surat Barnabas ini tidak dianggap sebagai tulisan yang diilhami oleh Roh Kudus.
KESIMPULAN:
Sebagai umat KRISTIANI, kita hanya berpegang dari apa yang telah ditetapkan dari Magisterium tentang kanon Kitab Suci. Magisterium melalui Paus Damasus I (382) dan konsili- konsili berikutnya menentukan hanya ada empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) dan inilah yang dipegang oleh Gereja Katolik. Sepanjang pengetahuan saya Surat Barnabas ini tidak dikutuk oleh Paus Damasus/ Sinoda Roma. Surat itu hanya tidak diakui sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga tidak dimasukkan dalam kanon Kitab Suci.
III: TENTANG / SIAPAKAH MANI???:
Mani adalah seorang Persia yang mendirikan agama yang dikenal sebagai Manichæism pada abad ke 3, yang merupakan campuran antara dualisme Zoroastrian, cerita rakyat Babilonia dan etika Buddism, dengan penambahan elemen- elemen Kristiani. Prinsip ajarannya adalah adanya dua prinsip utama yaitu kebaikan dan kejahatan, seperti yang kemudian diajarkan kembali oleh ajaran sesat Albigensian di abad ke 12, seperti yang kemudian diajarkan kembali oleh ajaran sesat Albigensian di abad ke 12.
Mani mensejajarkan dirinya dengan Buddha, Zoroaster dan Yesus dan menyebut diri sebagai “Rasul dari Tuhan yang benar”. Prinsip ajarannya adalah ajaran gnostik, yang mengajarkan keselamatan dengan pengetahuan, yaitu kosmogoni. Manichaeanism mengaku sebagai aliran Kristen, namun ajarannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus: Mani mengaku sebagai Roh Kudus, dan ia menolak Kisah Para Rasul. Ia menolak semua kitab Perjanjian Lama, namun menerima sebagian dari ayat- ayat Perjanjian Baru, untuk disesuaikan dengan ajarannya. Baginya Yesus hanya sebuah partikel ilahi (aeon) Terang, dan Mani menolak bahwa Yesus telah benar- benar lahir dalam sejarah manusia. Jadi yang dipercaya oleh Mani, adalah Yesus hanya sepertinya bayangan, yang kelihatannya hidup, menderita dan wafat, tetapi semua itu tidak sungguh- sungguh terjadi dan dialami Yesus. Ini adalah sesuatu ajaran yang sangat bertentangan dengan inti iman Kristiani!.
Mani bekerja di bawah Raja Persia Shapur I (242) kemudian Hormizd I, namun penerusnya Bahram I mulai menganiaya Mani dan para pengikutnya. Ia (Raja Bahram I) akhirnya memenjarakan Mani, dan Mani wafat di penjara pada tahun 276 dan 277. Memang kenyataannya, ajaran Manichaeism ini banyak berkembang di Alexandria, kemungkinan karena adanya sekilas kemiripan dengan surat Barnabas tersebut (penolakan ajaran Yahudi, dan pertentangan antara terang dan kegelapan); walaupun kalau sudah diperhatikan detailnya, sesungguhnya tidak berhubungan. Karena pada saat surat Barnabas itu dituliskan, ajaran gnostik campuran ala Mani itu belum anda. Dan secara prinsip, sebenarnya terdapat perbedaan yang besar, terutama karena surat Barnabas tetap mengajarkan ke- Allahan Yesus, sedangkan Manichaeism tidak. Mani-lah yang mengajarkan prinsip Kristologi Docetism tentang Yesus yang tidak sungguh- sungguh disalibkan, seperti yang kemudian diyakini oleh umat Islam.
St. Agustinus pernah mengikuti aliran Manichaeism selama beberapa tahun dan mendalaminya (373-383- sebelum bertobat menjadi Katolik), sampai akhirnya ia menemukan sendiri bahwa aliran ini sungguh- sungguh sesat. Akhirnya, St. Agustinus malah menjadi seorang yang menentang Manichaeism dan menuliskan banyak artikel untuk membuktikan bahwa ajaran Mani (yang mengklaim mengajarkan pengetahuan sempurna untuk keselamatan) adalah ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus, dan bahkan bertentangan dengan akal sehat.
IV: HERESI SESAT ALBIGENSIAN:
Albigenses adalah suatu sekte Kristen di abad 12-13 yang menganut ajaran Dualisme. Walaupun mereka menamakan dirinya sebagai Kristen, namun sebenarnya ajaran sekte ini sangatlah menyimpang dari ajaran Kristiani. Karena mereka tidak mempercayai adanya satu Tuhan Pencipta dan Pengatur segalanya, tetapi mereka mempercayai adanya dua tuhan, yang satu baik dan yang kedua, jahat. Maka Tuhan (allah yang baik) dan Iblis (allah yang jahat) sama-sama bertanggung jawab terhadap dunia ini. Dengan prinsip ini, maka mereka percaya bahwa segala yang berupa material di dunia, termasuk yang ada pada manusia (yaitu tubuh manusia) adalah hasil pekerjaan Iblis dan sepenuhnya adalah jahat. Maka manusia yang merupakan separuh ciptaan Tuhan, dan separuh ciptaan Iblis, perlu untuk diselamatkan. Sumber keselamatan ini bukanlah Penjelmaan Tuhan Yesus ke dunia dan kurban salib-Nya tetapi pembebasan jiwa dari tubuh. Maka bagi para Albigensian, Kristus bukan Tuhan dan juga bukan manusia, tetapi semacam malaikat yang mengambil tempat sementara dalam tubuh manusia, dan sengsara dan wafat-Nya hanyalah ilusi.
Konsekuensi dari ajaran sesat Albigensian ini adalah sangat merusak, karena: 1) konsep keselamatan bagi mereka adalah ‘pembebasan dari tubuh’, bukannya penghapusan dosa oleh jasa Kristus dan anugerah hidup ilahi di dalam-Nya; 2) mereka membenci perkawinan, karena perkawinan memungkinkan terciptanya ‘tubuh’ yang baru 3) mereka mendukung homoseksualitas/ perkawinan sesama jenis; 4) mereka membenci kehamilan; wanita yang mengandung dianggap sebagai seorang yang dirasuki Iblis. 5) mereka mendorong tindakan bunuh diri, karena menyebabkan seseorang terlepas dari ‘tubuh’. Di atas semua itu, dengan konsep ‘merendahkan tubuh, mereka tidak menghargai Inkarnasi (Penjelmaan Tuhan Yesus menjadi manusia, dan mengambil ‘tubuh’ manusia). Dan karena Penjelmaan Kristus merupakan salah satu inti Iman Kristiani, maka dapat dimengerti bahwa ajaran Albigensian/Kataris ini sungguh sangat menentang kebenaran iman Kristiani.
Para Albigensian ini beranggapan bahwa selama jiwa masih bersatu dengan tubuh maka masih ada kemungkinan ia jatuh dalam perangkap Iblis. Untuk mengatasi hal ini mereka mengadakan suatu ritus yang dinamakan Consolamentum, dan sesudah itu mereka disebut Perfect, dan terikat kewajiban-kewajiban yang sangat serius, dan tidak boleh diingkari, agar tidak lagi jatuh dalam bahaya perangkap Iblis. Kewajiban ini misalnya, hidup selibat seumur hidup, puasa yang ketat (tidak boleh makan daging, telur, susu, mentega dan keju), tidak boleh terikat sumpah. Dari ketentuan ini mayoritas orang tidak dapat melaksanakannya. Mereka yang telah menerima Consolamentum ini banyak yang memilih untuk bunuh diri daripada menjalankan hidup seperti itu. Lagipula, menurut mereka bunuh diri adalah tindakan yang sempurna bagi Albigensian yang sejati, yang merasa tidak mampu melaksanakan cara hidup yang disyaratkan.
Para Albigensian ini bertemu dalam ibadah secara teratur. Mereka membaca Alkitab, terutama Perjanjian Baru, yang telah mereka terjemahkan dalam bahasa vernakular/ setempat, dengan tafsiran-tafsirannya yang sangat anti Katolik. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa sampai ajaran yang menyimpang ini sampai meluas dan diterima banyak orang? Pertama, karena mereka mempunyai banyak pengkhotbah yang mengkhotbahkan pengajaran ini ke-mana-mana, sedangkan pada saat itu para imam Katolik rata-rata tidak pernah/ jarang berkhotbah. Maka mereka yang lahir dan dibesarkan secara Katolik lama-kelamaan berpikir bahwa itu memang ajaran Kristiani. Kedua, para Perfect itu memang hidup dengan sangat miskin, sedangkan pada saat itu para imam memang hidup dalam kelimpahan. Para Perfect banyak berderma, dan menggunakan uang sumbangan untuk mendukung industri bagi lapangan kerja para pemeluk sekte ini. Maka sedikit demi sedikit, sekte ini semakin berakar dalam kehidupan negara dan ekonomi.
I: PENGARUH YG DITIMBULKAN OLEH SEKTE ALBIGENSES:
Konsili pertama yang membahas masalah heresi ini adalah Konsili Orleans tahun 1022, yang mengadili 13 orang imam/ clergy. Heresi/ bidat ini berkembang luas di Jerman, Italia utara, Perancis selatan, lalu juga ke Champagne, Languedoc (salah satu pusat Christendom yang penting) dan Milan, dan menyebar ke Burgundy, Picardy, Fladers, Perancis tengah, Tuscany, khususnya, Florence, dan juga ke Roma, Italia selatan, Sicily dan Sardinia.
Maka kemudian Albigenses ini (atau juga sering disebut Catharists) dikecam di banyak Konsili, yaitu di Tolouse (1119), Lateran II (1139), Rheims (1148), Tours (1163), dan Lateran III (1179). St. Bernardus dikirim untuk berkhotbah di daerah-daerah yang terpengaruh oleh heresi ini, namun baik kesucian maupun kefasihannya berkhotbah tidaklah membawa pengaruh yang besar. Di Perancis selatan, gereja-gereja sudah tidak dikunjungi, sakramen ditinggalkan. Di Toulouse sekte ini malah menjadi agama resmi. Utusan Paus Alexander III diusir dan dihina, kecaman dari Konsili 1179, tidak digubris. Hampir semua provinsi Christendom yang penting telah menjadi anti- Katolik. Beberapa uskup dan imam Katolik juga mulai banyak yang terpengaruh oleh ajaran mereka.
II: PAUS INNOCENT III DAN REAKSI DARI PIHAK GEREJA KATOLIK:
Setelah Paus Innocentius III dipilih, ia memusatkan perhatian untuk menangani masalah yang terjadi di Languedoc. Dia menunjuk dua pertapa dari ordo pertapa Cistercian sebagai pembawa pesannya. Misi mereka adalah untuk mempengaruhi para pangeran, untuk mengusir para bidat dan menyita harta milik mereka, berdasarkan hukum pada tahun 1184. Keberhasilan usaha mereka terhitung kecil, baik untuk menaggulangi heresi maupun untuk mengusahakan reformasi bagi kehidupan para imam/ clergy yang pada waktu itu banyak yang hidupnya tidak sesuai dengan panggilan hidup mereka. Maka pada tahun 1202, kedua pertapa ini digantikan oleh dua pertapa Cistercian lainnya, salah satunya bernama Peter de Castelnau dan Raoul. Castelnau ini seorang yang berani dan penuh semangat. Uskup Agung Languedoc diturunkan, karena menolak untuk bekerjasama, Uskup Toulouse diturunkan, karena kasus simoni, demikian juga dengan Uskup Beziers.
Pada tahun 1205 maka propaganda anti Catharist/ Albigensian mencapai puncaknya, melalui pengajaran, khotbah, pamflet, dsb, yang diarahkan oleh disiplin religius yang terbaik. Para utusan Paus juga mengajarkan tentang iman supaya umat Katolik tidak ragu tentang iman mereka dan kesungguhan Bapa Paus untuk mengkoreksi kehidupan para imam/ clergy. Namun demikian, misi inipun tidak berakibat banyak. Pangeran Touluose tetap menolak bekerja sama.
Kemudian Bapa Paus memperoleh bantuan dari Diego (uskup Osma) dan Dominic. Mereka membentuk tim tujuhpuluh dua murid, yang seperti dalam Injil. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan berkhotbah dan terbagi-bagi dalam kelompok kecil, berdialog dengan para bidat. Pada tahun 1206-1207 mulailah terjadi pertobatan, dan sebagaian dari para heretik itu kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Tahun 1207 seluruh Waldensian kembali, dan Paus Innocentius III mengizinkan mereka hidup sesuai dengan kaul kemiskinan mereka dalam satu order religius yang bernama Poor Catholics (Kaum Katolik yang miskin).
Setelah 10 tahun misi ini, Castelnau kembali ke Toulouse untuk berdialog dengan Pangeran Raymond VI, agar ia mau bekerjasama. Sudah dua kali Pangeran Raymond berjanji mau bekerjasama, namun kemudian ia berubah pikiran dan menolak secara resmi. Maka Castelnau memberi sangsi ekskomunikasi dan memberi interdict/ pemotongan hak dan fungsi pada daerah kekuasaannya. Namun, tiga bulan kemudian, 15 Jan 1208, Peter de Castelnau dibunuh oleh salah seorang sersan kerajaan Toulouse. Pangeran Toulouse secara umum bertanggungjawab atas hal ini. Kematian Castelnau ini mengakhiri misi khotbah dari kaum Cistercian dan digantikan oleh perang. Pembunuh Castelnau di- ekskomunikasi, dan keputusan atas Pangeran Raymond diperbaharui. Hak-haknya sebagai pemimpin daerah dicabut, sekutu-sekutunya dibebaskan dari perjanjian. Paus Innocentius III menyatakan perang / crusade selama 40 hari untuk mengalahkan para heretik, memberikan indulgensi kepada para prajurit, seperti yang diberikan kepada prajurit di Holy Land. [Walaupun perang selalu pada dasarnya kejam dan tidak kudus, tetapi untuk alasan membela kebenaran iman ini, maka disebut perang kudus/ crusade]. Pada tahun 1209, pasukan dari 200,000 siap mengepung Toulouse.
Pangeran Raymond VI, akhirnya menyerah (18 Juni 1209), dan tunduk pada hukuman dera di hadapan publik di St. Gilles , berjanji untuk mengalahkan para heretik. Setelah itu pasukan sampai di Valence dan ia bergabung dengan mereka. Pada bulan Agustus kedua pusat heretik dikalahkan yaitu Beziers dan Carcassone. Sayangnya kemenangan di Beziers ditandai juga dengan pembunuhan massal, yang tidak hanya mencakup pasukan kota, tapi juga beribu penduduk sipil. Di sinilah terdengar seruan yang mengerikan di Beziers: “Bunuh saja semua, Tuhan akan mengetahui siapa milik-Nya.” Salah satu pemimpinnya yaitu Simon de Monfort, yang kemudian menjadi penguasa atas Bezier dan Carcassone. Selama tahun-tahun ke depan dia berjuang melawan Pangeran Raymond, mereka yang tergantung padanya, dan raja Aragon, Peter II yang mempunyai kuasa di atas Pangeran Raymond.
Sejak saat itu perang melawan Albigenses juga tercampur dengan motif-motif lainnya, termasuk persaingan politik. Pangeran Raymond sendiri tidak pernah memberikan sikap yang jelas, karena ia tidak mau menyerahkan para bidat. Maka utusan Paus kembali memberikan sangsi ekskomunikasi kepada Raymond, dan interdict. Pangeran Raymond naik banding kepada Paus Innocentius, yang kemudian mencabut interdict tersebut. Tiga bulan kemudian diadakan Konsili untuk membahas pelanggaran Raymond ini (1210) dan Raymond tidak mengindahkan apapun kewajiban yang sudah dijanjikannya di bawah sumpah. Dia tidak membubarkan pasukannya ,dan terus mendukung para bidat/ heretik. Paus Innocentius kembali memberi peringatan, dan kembali mengingatkannya untuk bekerja sama. Kembali Konsili diadakan untuk membahas apa yang telah dilakukan Pengeran Raymond (Des 1210, Jan 1211, Feb 1211). Beberapa pelanggaran dilakukannya, dan akhirnya, diputuskan oleh Paus bahwa Pangeran Raymond di ekskomunikasi, dan dikatakan sebagai musuh Gereja.
Selanjutnya, Simon de Montfort sedikit demi sedikit menaklukkan tempat- tempat heretik tersebut. Lavaur jatuh ke tangan pasukan crusaders, yang menang atas daerah itu, dengan membunuh penduduk di sana, setelah mendengar bahwa pasukan merekapun sebanyak 6000 orang telah dibantai pihak heretik. Paus Innocent III berusaha melerai pertengkaran tersebut, namun tak berdaya karena terjepit oleh kesaksian- kesaksian kedua belah pihak yang saling menjatuhkan. Peter II Raja Aragon yang adalah ayah mertua Raymond berusaha memperoleh ampun bagi menantunya, namun tak berhasil. Sementara itu Paus Innocentius akhirnya menjadi yakin atas pelanggaran dan penipuan dari Pangeran Raymond, dan trik-trik dari Peter, Raja Aragon. Terjadilah pertempuran antara Raja Peter II dengan Simon de Montfort, yang berakhir dengan kematian Raja Peter II (1213). Maka, seluruh daerah kekuasaan Raymond jatuh ke tangan Simon de Montfort, kecuali Toulouse. Namun Paus Innocent III mengakui de Monfort hanya sebagai administrator daerah-daerah ini. Pada saat Konsili Montpelier 1215 diadakan, Simon de Montfort diakui sebagai Pangeran Toulouse, dengan catatan pemberian hak-hak yang khusus kepada Raymond dan keturunannya. Setelah diberitahukan kepada Paus Innocentius III bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menumpas heresi, akhirnya menyetujui pilihan itu. Setelah 7 tahun lamanya dari pertempuran, pembantaian yang tidak dapat dikatakan disebabkan karena kesalahan satu pihak saja, hambatan terbesar untuk menumpas heresi Albigensian (Neo- Manicheaeism) akhirnya teratasi, walaupun selanjutnya masih terdapat sisa- sisa pengaruhnya.
Setelah Simon de Montfort wafat, puteranya Amalric naik tahta, mewarisi hak-hak ayahnya. Namun kemudian terjadilah pertempuran-pertempuran di wilayahnya hingga akhirnya ia dan Raymond VII menyerahkan daerah kekuasaan mereka kepada Raja Perancis. Sementara ini Konsili Toulouse (1229) mempercayakan kepada Inkuisisi (Inqusition) ke tangan para biarawan Dominikan, dengan tujuan untuk mengakhiri heresi Albigensianisme. Heresi ini akhirnya berakhir di akhir abad ke- 14.
IV: ST. DOMINIKUS DAN ST. FRANSISKUS:
Dari di sini kita melihat juga peran kedua orang kudus yang hidup pada jaman itu, yaitu St. Dominikus dan St. Fransiskus. Pertempuran itu tidak menghentikan kampanye khotbah dan diskusi. Uskup Diego pensiun, dan kini Dominikus Guzman mengambil peran aktif. Ia beserta timnya mulai diakui sebagai pengkhotbah resmi. Des 1216, ordo Dominikan diakui oleh Paus Honorius III dengan tugas khusus untuk berkhotbah. Ordo ini bertujuan untuk melatih para penerus rasul untuk memerangi heresi dengan pemikiran/ ajaran dan kehidupan asketik. Kehidupan biara diisi dengan proses mempelajari Kitab Suci dan membahas pertanyaan-pertanyaan Teologis. Dari ordo inilah muncul Peter Lombard dan St. Thomas Aquinas. Di sinilah kita mengetahui bagaimana Tuhan memakai kejadian yang kisruh di abad pertengahan tersebut, untuk kemudian melahirkan pengajaran Gereja Katolik yang lebih sistematis, dan berakar pada Alkitab, sehingga dapat lebih mudah diajarkan kepada umat. Dengan memahami ajaran ini, maka umat Katolik diharapkan untuk lebih memahami imannya tidak mudah terbawa oleh arus pemahaman heretik yang tidak mempunyai dasar yang kuat, sehingga kontradiktif di dalam banyak hal.
Demikian pula, St. Fransiskus adalah seorang kudus yang lahir pada jaman itu (1182) untuk memberi teladan kehidupan membiara yang memegang kaul kemiskinan, berlawanan dengan kehidupan berlebihan para clergy pada saat itu. Dengan demikian teladan hidupnya menjadi contoh hidup para religius, dan dengan caranya sendiri ia berperan untuk memurnikan makna panggilan hidup membiara. St. Fransiskus berasal dari keluarga yang kaya dan ternama, namun ia meninggalkan segalanya demi maksud membangun Gereja. Ia mendirikan ordo para bruder yang hidup dalam kaul kemiskinan dan mengkhotbahkan pertobatan. Ordo ini berkembang pesat, dan membangkitkan kembali Gereja Katolik dari dalam.
Melalui kedua orang kudus ini, St. Dominikus dan dan St. Fransiskus dari Asisi, Tuhan memenuhi janjinya, “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” (Rom 5:20) Artinya, biar bagaimanapun kuasa Tuhan lebih besar daripada kuasa Iblis; dan Tuhan dapat memakai kejadian seburuk apapun untuk mendatangkan kebaikan kepada mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28), dan janji ini digenapi-Nya di dalam Gereja-Nya.
V: KESIMPULAN AKHIR:
Sebenarnya Albigensianisme bukanlah heresi Kristiani tetapi sebuah agama yang di luar Kristen. Setelah upaya persuasif gagal, pihak otoritas Gereja menerapkan represi dengan kekerasan, yang seringnya menjurus ke arah berlebihan dan ini sangat disayangkan. Simon de Montfort bermaksud baik pada mulanya, namun akhirnya menggunakan nama agama untuk merebut wilayah kekuasaan Pangeran Toulouse. Memang harus diakui bahwa hukuman mati terlalu banyak diberikan kepada para pengikut sekte Albigensianisme ini, namun harus pula kita pahami bahwa hukuman sangsi pada jaman itu memang lebih keras diberikan daripada pada jaman sekarang, dan seringkali dipicu oleh suatu pelanggaran yang berlebihan. Pangeran Raymond VI dan VII seringnya menjanjikan akan bekerjasama menumpas heresi, tetapi tidak pernah benar- benar melaksanakannya. Paus Innocent III benar ketika mengatakan bahwa ajaran sesat Albigensianisme merupakan sesuatu heresi yang lebih buruk daripada kaum Saracens. Paus selalu mengusahakan jalan tengah, walau sering tak berhasil, dan iapun sebenarnya tak pernah menyetujui kebijaksanaan yang egois dari Simon de Montfort. Yang diperangi oleh Gereja pada saat itu, bukan saja keruntuhan agama Kristen, tetapi juga kepunahan umat manusia, karena ajaran Albigensianisme yang mendorong ‘culture of death‘/ budaya kematian, dengan membenci tubuh, membenci perkawinan dan mendorong bunuh diri dari para anggotanya.
Bahwa sesudah saat itu diadakan Konsili di Toulouse 1229 yang melarang orang Katolik membaca Alkitab, itu adalah suatu larangan yang bersifat sementara, karena pada saat itu banyak beredar terjemahan Kitab Suci dengan tafsiran- tafsiran yang menyimpang sesuai dengan ajaran Albigensian.
Maka jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya. Sebab pengalaman telah menunjukkan bahwa tanpa bimbingan Gereja maka penafsiran Alkitab dapat berakhir dengan interpretasi yang malah bertentangan dengan iman Kristen.
Selanjutnya, terutama melalui Konsili Vatikan ke II, Dei Verbum 25, kita mengetahui bahwa kita sebagai umat beriman dianjurkan untuk membaca Alkitab, terutama para imam dan pengajar iman seperti para katekis. Namun demikian, pembacaannya harus didahului dengan doa sehingga kita dapat mendengar Dia (Tuhan) sendiri lewat ayat-ayat ilahi yang kita baca.
Mari kita melihat fakta sejarah dengan sikap obyektif. Bahwa memang terdapat kesalahan- kesalahan dari kedua belah pihak, namun selalu ada alasannya, mengapa sampai demikian. Albigenses atau Catharist adalah ajaran Neo- Manichaeism (versi baru dari Manichaeism yang adalah aliran sesat pada jaman St. Agustinus sekitar abad ke-4) yang sangat tidak Kristiani, maka mereka bukannya menawarkan ‘doktrin reformed’, karena prinsip ajaran mereka malah sungguh menyimpang. Saya sebagai umat Katolik, sepenuhnya bisa memahami keputusan pihak otoritas Gereja Katolik saat itu, dalam rangka mempertahankan kemurnian pengajaran iman Kristiani yang sesuai dengan pengajaran para rasul, walaupun juga menyesalkan adanya keadaan kekerasan yang melewati batas. Agaknya memang keadaan pada saat itu sangatlah rumit, dan Paus Innocentius III sungguh menghadapi pilihan yang sangat sulit. Tetapi, tanpa kegigihannya mengakhiri heresi Albigensian, mungkin tak banyak bangsa yang bertahan hidup sampai sekarang, bukan karena perang, tetapi karena dengan sendirinya membenci kehidupan dan mengakhiri kehidupan mereka sendiri dengan bunuh diri. Dengan mempelajari sejarah Gereja kita akan semakin disadarkan akan kelemahan kita sebagai manusia, namun juga kita mengagumi akan campur tangan Tuhan yang menjaga keberadaan Gereja-Nya yang diterpa badai tak hanya dari luar tetapi dari dalam tubuhnya sendiri. Namun janji Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus selalu digenapinya, dan Kristus tak akan membiarkan Gereja-Nya runtuh, sebab Ia berjanji, “alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18).
SALAM DAMAI KRISTUS.
DOSA MENGHUJAT ROH KUDUS, DOSA YG TAK TERAMPUNI = DOSA KEKAL.
I: DOSA MENGHUJAT ROH KUDUS:
1: Di dalam Katekismus Gereja Katolik 1864 dikatakan “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus”, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.
2: Jadi secara prinsip dosa adalah suatu kesalahan yang membuat manusia membelok dari tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan. Semakin parah suatu dosa, maka pembelokannya terhadap tujuan akhir akan semakin besar. Dan dosa menghujat Roh Kudus, adalah suatu pembelokan yang benar-benar bertentangan dengan tujuan akhir. Hal ini dapat juga dimanifestasikan dengan keputus-asaan dan tidak mempunyai sikap untuk sampai pada tujuan akhir.
3: Perwujudan dari dosa ini adalah keputusasaan karena meragukan kasih Allah (despair) dan juga anggapan yang salah tentang keadilan Allah (sin of presumption). Dua hal ini adalah akibat dari kesalahan menilai hakekat Allah. Keputus-asaan melawan kebijaksanaan ilahi harapan (hope), di mana harapan ini diperlukan untuk percaya akan janji Allah tentang kehidupan kekal di surga. Keputus-asaan sebenarnya memberikan tuduhan yang tidak benar akan Allah yang sebenarnya maha pengampun dan maha kasih. Dengan demikian seseorang yang berputus asa akan menganggap dosanya lebih besar dari kasih Allah. Oleh karena itu, orang ini dapat melakukan apa saja yang melawan Allah, dengan anggapan bahwa dia tidak mungkin mendapatkan kasih Allah.
4: Di sisi yang lain, anggapan yang salah tentang keadilan Allah (sin of persumption) adalah dosa yang melawan Roh Kudus, yang bertolak belakang dengan dosa keputus-asaan. Persumption percaya akan janji Allah tentang Surga, namun menyalahi Allah yang sebenarnya Maha Adil, sehingga orang ini berfikir dapat mencapai surga dengan caranya sendiri tanpa mempedulikan bahwa Allah menghendaki pertobatan dan bahwa ada konsekuensi dari dosa/ kesalahan yang diperbuat olehnya. Orang macam ini menempatkan anggapan sendiri lebih tinggi dari pada hukum Tuhan. Dia juga berfikir bahwa dia dapat terlepas dari hukuman Tuhan walaupun dia berdosa. Oleh karena itu, pertobatan yang membawa kepada kebahagiaan kekal, menjadi suatu yang sulit sekali dilakukan, sebab orang ini tidak melihat bahwa pertobatan itu diperlukan. Dan akhirnya orang ini juga dapat terjebak untuk tidak mengakui adanya hukum moral dan kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu orang ini sulit diselamatkan, karena menolak kebenaran berarti menolak Tuhan, sumber dari kebenaran atau kebenaran itu sendiri.
II: BAGAIMANA DENGAN DOSA MENGHUJAT ALLAH BAPA DAN ALLAH PUTERA:
Dalam konteks perikop tersebut (Mt 12:22-37), dikatakan bahwa Yesus telah begitu banyak menyembuhkan orang, yang tidak mungkin dapat dilakukan tanpa kuasa Allah. Walaupun dengan bukti-bukti tersebut dan ditambah dengan begitu banyak orang yang mengatakan bahwa “Yesus adalah anak Daud (yang berkonotasi Sang Mesias)” (Mt 12:23), kaum farisi masih tetap tidak percaya. Dari perikop tersebut, kita melihat bahwa Yesus mengusir setan, menyembuhkan yang buta dan bisu, seperti yang diceritakan demikian, “Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat.” (Mt 12:22). Seharusnya, sebagai seorang farisi, mereka tahu akan nubuat nabi Yesaya, “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara.“(Is 35:5-6). Namun bukannya percaya atau minimal mempelajari hal ini, mereka dengan serta merta mereka berkata “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.” (Mt 12:24). Dalam konteks inilah Yesus mengatakan bahwa “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap ROH KUDUS tidak akan diampuni.” (Mt 12:31).
Kalau mereka masih meragukan kehadiran Mesias dalam rupa manusia, mungkin mereka masih dapat dimaafkan (lihat Catena Aurea, komentar dari Santo John Chrysostom pada Mt 12:31-32). Rasul Paulus mengatakan “bahwa tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan” (1 Kor 1:23). Namun pada saat mereka menghujat karya Allah, Roh Kristus yang sebenarnya terbentang di hadapan mereka – seperti pengajaran dan banyak mukjijat – kemudian mengatakan bahwa semua itu adalah dari Setan, mereka telah mengeraskan hati mereka dan secara jelas menolak Allah, yang telah berbicara kepada bangsa Yahudi lewat para nabi.
III: KALAU BEGITU, APAPAKAH DOSA TERHADAP ALLAH BAPA DAN ALLAH PUTERA DAPAT DI AMPUNI???:
Dosa pada dasarnya adalah melawan Allah, dan tidak dapat dipisahkan antara dosa melawan Allah Bapa, Putera, Roh Kudus, karena tiga Pribadi tersebut adalah Allah yang satu. Namun bagaimana menjawab ayat Mt 12:31, yang seolah-olah menempatkan Roh Kudus lebih tinggi dari pribadi yang lain, sehingga dosa terhadap Roh Kudus tidak dapat diampuni dan dosa terhadap yang lain dapat diampuni. Kita dapat meninjaunya dari sisi “appropriation“, dimana hal ini digunakan untuk membedakan tiga Pribadi dalam Tritunggal Maha Kudus, seperti yang diterangkan oleh St. Thomas Aquinas, ST, I, q. 39, a. 7.
Tentang Roh Kudus yang dijanjikan, Yesus berkata “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”
(Yoh 16:8). Oleh karena itu, tugas utama Roh Kudus adalah
‘menginsafkan’ manusia dari dosanya. Jika manusia tidak mau insaf, maka
ia berdosa melawan Roh Kudus. Maka adalah benar, kalau seseorang
menolak Roh Kudus, berarti ia menolak kebenaran dan menolak kasih
Allah, serta menolak pengampunan dari Allah, maka tidak mungkin diampuni
baik di kehidupan sekarang maupun yang akan datang.
Demikianlah yg bisa saya sampaikan.
SALAM DAMAI DALAM KASIH KRISTUS.
APAKAH INJIL BARNABAS ADALAH INJIL YG BERASAL DARI MURID YESUS
PENDAHULUAN TENTANG INJIL BARNABAS:
Injil Barnabas ditulis sekitar abad 16, dan di dalamnya terkandung banyak hal yang sesuai dengan paham Islam. Yesus yang digambarkan di dalam Injil Barnabas seperti yang digambarkan di dalam Kitab Suci agama Islam. Yesus digambarkan bukan sebagai Anak Allah atau Allah, namun sebagai nabi yang membuka jalan bagi Nabi Muhammad, sama seperti Yohanes Pemandi membuka jalan bagi Yesus. Dan Yesus tidak mati disalibkan, namun digantikan oleh Yudas. Bagi kita umat Katolik, injil ini bukanlah injil yang termasuk dalam Injil kanonik, karena apa yang disampaikannya tidak sesuai dengan ajaran Kristen.
I: GEREJA KATOLIK SENDIRI MENOLAK INJIL BARNABAS:
Gereja Katolik tidak mengakui adanya ‘injil’ Barnabas, karena tidak otentik. Kitab ini baru dituliskan berabad- abad kemudian setelah jaman Kristus dan para rasul. Manuskrip kitab tersebut ditemukan pada abad ke 16 (dalam bahasa Italia dan Spanyol). Karena Injil ini baru ditulis sekitar abad 16, terjadi kemungkinan penyelewengan-penyelewengan, karena saksi hidup dari kejadian tersebut sudah tidak ada. Bandingkan dengan Injil kanonik yang ditulis pada saat saksi hidup masih ada, sehingga tidak mungkin terjadinya penyelewengan.
Penyebutan tentang ‘injil’ Barnabas pertama kali disebutkan dalam manuskrip Morisco (orang Moor) tahun 1634, oleh Ibrahim al Taybili, 1718 oleh John Toland, dan 1734 oleh George Sale. Ajaran yang terkandung di dalam kitab ini bertentangan dengan ajaran Kristus dan para rasul, dan lebih sesuai dengan interpretasi muslim tentang Kristianitas.
II: INJIL BARNABAS SENDIRI BERTENTANGAN DENGAN AJARAN YESUS SENDIRI DAN PARA RASUL:
Pesan yang disampaikan oleh injil Barnabas bertentangan dengan kesaksian para saksi mata di abad pertama yang mempunyai lebih dari 5000 manuskrip untuk mendukung otentisitas kesaksian mereka, yaitu kitab-kitab Perjanjian Baru. Sebagai contohnya, ajaran injil Barnabas mengatakan bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia bukan Mesias dan Ia tidak mati di salib; namun klaim ini sepenuhnya dibuktikan salah oleh dokumen-dokumen yang sudah terbukti asli/ otentik, yang menyatakan sebaliknya.
Dengan menolak Yesus sebagai Allah Putera, ‘injil’ Barnabas dengan sendirinya menolak ajaran Allah Trinitas. Dengan demikian, kitab ini menolak inti ajaran keselamatan seperti yang diwahyukan oleh Allah sendiri, yang telah dimulai pre-figurasinya dalam Perjanjian Lama, sekitar 2000 tahun sebelum masehi, dan yang digenapi di dalam penjelmaan Kristus menjadi manusia dalam Perjanjian Baru. Tidak mungkin keseluruhan wahyu Allah, dengan segala nubuatan para nabi di Perjanjian Lama yang mengacu kepada Kristus Sang Mesias dalam Perjanjian Baru, dibatalkan dengan sebuah kitab yang baru ditulis di abad ke- 16, oleh pengarang yang tidak dikenal, hanya karena ia memakai nama Barnabas. Barnabas sendiri tidak termasuk dalam bilangan ke- dua belas rasul Kristus. Selanjutnya bukti- bukti menunjukkan bahwa tulisan tersebut tidak berasal dari jaman para rasul melainkan berabad- abad sesudahnya.
Kitab ‘injil’ Barnabas ini juga menolak puncak rencana keselamatan Allah, yaitu melalui penjelmaan Kristus Allah Putera sebagai manusia, penderitaan, wafat dan kebangkitan- Nya untuk menyelamatkan manusia. ‘Injil’ ini menyatakan bahwa yang disalibkan bukan Yesus, melainkan Yudas Iskariot, sedangkan Yesus sendiri diangkat ke surga. Pandangan seperti ini adalah pandangan Islam, dan bukan ajaran Kristus sendiri seperti yang disampaikan oleh ke-empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes).
Selanjutnya, kitab ini juga keliru dalam menyamakan Roh Kudus (paráklētos Yunani), dengan ‘periklutos‘ (artinya yang terhormat) yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Arab “Ahmad”, sehingga akhirnya mengacu kepada Muhammad. Padahal dalam kitab Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan surat- surat Rasul Paulus, Roh Kudus tidak untuk diartikan sebagai manusia, melainkan Pribadi Allah sendiri yang dicurahkan kepada para Rasul dan umat beriman; untuk mendatangkan pertobatan dan mencurahkan rahmat pengudusan Allah dan karunia- karunia-Nya.
Dari keterangan di atas, kita ketahui bahwa isi injil Barnabas tidak sesuai dengan pesan Allah, sehingga karena itu injil ini tidak menjadi bagian dari kanon Kitab Suci.
III: INJIL BARNABAS SENDIRI BERTENTANGAN DENGAN SURAT BARNABAS YG PERNAH DI BACAKAN DI ALEXANDRIA DI ABAD KE-2:
Jika ditinjau dari isinyapun tidak berhubungan antara Surat Barnabas dengan injil Barnabas. Surat Barnabas mengakui ke- Allahan Yesus, dan bahkan menekankan kasih karunia oleh Kristus yang mengatasi hukum Taurat, sehingga menolak hukum sunat. Sedangkan ‘injil’ Barnabas yang ditulis atas dasar pemahaman Islam, tidak demikian. Penjelasan tentang Surat Barnabas.
IV: TERDAPAT BANYAK KEJANGGALAN DALAM INJIL BARNABAS SEPERTI:
A: Meskipun ditulis dalam bahasa Italia, kitab ini dituliskan dengan gaya Arab/ Islam, sekali- kali dengan kata- kata bahasa Turki, dan tata bahasa Turki, dengan dialek Tuska dan Venezia, seperti yang umum digunakan di kota universitas Bologna (Italia).
B: Di pinggiran halaman terdapat catatan- catatan dalam bahasa Arab.
C: Penjilidan kitab berasal dari Turki, walaupun kertasnya berasal dari Italia.
D:. Terdapat kesalahan- kesalahan ejaan, seperti tidak perlunya huruf ‘h’ ketika suatu kata berawal dengan huruf hidup (contoh “hanno”, padahal harusnya cukup “anno”)
E: Spasi yang ada di bagian bawah setiap lembarnya mengindikasikan spasi yang dimaksudkan untuk pencetakan.
F: Banyak frasa yang digunakan dalam ‘injil’ Barnabas tersebut mempunyai kemiripan dengan frasa yang digunakan oleh Dante Alighieri, seorang pujangga ternama Italia di abad Pertengahan (1265-1321); sehingga dapat disimpulkan pengarang ‘injil’ ini meminjam/ meniru karya Dante.
G: Terdapat kemiripan tekstual ‘injil’ Barnabas ini dengan bahasa setempat tentang ke- empat Injil (terutama bahasa Italia abad Pertengahan) sehingga dapat diperkirakan bahwa kitab ini aslinya dituliskan dalam bahasa Italia. Ini membuktikan ketidak-otentikan kitab ini, sebab bahasa Italia sendiri baru eksis sekitar abad ke- 13 sebagai bahasa tulisan, sehingga tidak mungkin ditulis oleh ‘Barnabas’ murid Yesus di abad pertama)
V: AKRONISME DAN KETIDAKSESUAIAN SEJARAH YANG TERCATAT DALAM INJIL BARNABAS:
Berikut ini adalah ketidak-sesuaian lainnya yang disebut Anakronisme dan ketidaksesuaian sejarah, yang menunjukkan bahwa tulisan ini tidak otentik, dan tidak merupakan wahyu Allah karena mengandung kesalahan. Injil Barnabas yang mengandung banyak kesalahan dan menjabarkan tentang kehidupan di zaman Abad Pertengahan, yang tidak cocok dengan kehidupan pada zaman Yesus dan para Rasul, membuktikan bahwa teks ini tidak berasal dari abad-abad pertama. Berikut ini contoh- contohnya:
A: Dikatakan bahwa Yesus dilahirkan di jaman Pontius Pilatus, yang baru naik tahta setelah tahun 26. Ini keliru, karena Yesus lahir pada jaman Kaisar Agustus (Luk 2:1).
B: Yesus dikatakan ‘berlayar’ ke Nasaret (bab 20), padahal Nasaret bukan kota pelabuhan. Tidak ada pantai atau perairan di Nasaret untuk orang dapat berlayar.
C: Penulis kitab ini kelihatannya tidak menyadari bahwa kata ‘Kristus’ dan ‘Mesias’ adalah terjemahan dari kata yang sama yaitu ‘Christos’, yaitu yang menjabarkan Yesus sebagai Yesus Kristus. Maka tidak mungkin Yesus yang disebut Kristus itu mengatakan, “Saya bukan Mesias”, [karena sama saja ia mengatakan bahwa saya bukan Kristus, yang adalah namanya sendiri]. (bab 42)
D: Ada referensi tahun yubelium yang dirayakan setiap seratus tahun sekali (bab 82), bukannya lima puluh tahun sekali seperti yang dituliskan dalam kitab Imamat 25. Anakronisme ini kemungkinan berhubungan dengan Tahun Suci pada tahun 1300 yang ditentukan oleh Paus Boniface VIII, yang menentukan untuk memperingati tahun Yubelium setiap seratus tahun sekali.
E: Adam dan Hawa dikatakan memakan buah apel (bab 40), padahal seharusnya adalah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej 2:17). Kemungkinan kata apel diperoleh dari terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin, di mana ‘apel’ dan ‘jahat’ sama- sama dikatakan sebagai ‘malum‘.
F: Kitab tersebut mengatakan bahwa anggur disimpan di dalam gentong/ drum kayu (bab 152). Gentong kayu adalah ciri khas penyimpanan anggur di Gaul dan Italia Utara, dan tidak umum digunakan dalam kerajaan Roma, sampai tahun 300; sedangkan penyimpanan anggur di abad pertama di Palestina adalah di dalam kantong kulit (wineskin) dan tempayan (jar, ‘amphorae‘). Pohon English Oak/ Pedunculate (quercus robur) tidak tumbuh di Palestina, dan kayu jenis lainnya tidak cukup padat untuk digunakan sebagai gentong anggur.
G: Semua kutipan didasarkan pada Vulgate bible (382 AD). Ketika ‘injil’ Barnabas mengutip Perjanjian Lama, maka yang dikutip lebih sesuai dengan bacaan- bacaan yang ada di kitab Latin Vulgate, daripada yang ada di Kitab Septuagint ataupun Teks Masoretik Ibrani. Padahal terjemahan Latin Vulgate yang adalah hasil karya St. Jerome dimulai tahun 382, bertahun- tahun setelah kematian Barnabas. Maka pengutipan Vulgate ini merupakan indikasi, bahwa kitab ini tidak mungkin ditulis oleh Rasul Barnabas sendiri di abad pertama, saat teks Vulgate sendiri belum ada.
H: Bab 54 mengatakan: “Sebab ia akan mendapatkan nilai tukar dari emas adalah enam puluh minuti.” Dalam Perjanjian Baru, satu- satunya koin emas, namanya aureus yang nilainya sama dengan 3,200 koin tembaga, yang disebut ‘lepton’ (diterjemahkan dalam bahasa Latin, minuti), sedangkan koin perak Roma mempunyai nilai tukar 128 lepton. Maka nilai tukar 1:60 yang ditulis dalam ‘injil’ Barnabas, adalah interpretasi dari jaman abad pertengahan dari perikop Injil (Mrk 12:42), yang berasal dari pengertian standar di abad pertengahan bahwa minuti berarti seperenampuluh. Selain itu, disebutkan pemakaian nama koin denarius, yang dipakai di Spanyol tahun 685.
KESIMPULAN
Dengan tidak adanya bukti keotentikan injil Barnabas ini, sesungguhnya injil ini tidak layak untuk dijadikan dasar acuan ajaran. Injil Barnabas bukan teks yang berasal dari abad pertama Masehi, seperti seharusnya jika sungguh ditulis oleh Rasul Barnabas. Sumber otentik yang berasal dari abad pertama yang merekam kehidupan Yesus adalah kitab-kitab Perjanjian Baru, yang semuanya bertentangan dengan ajaran injil Barnabas.
Sebagai umat Kristiani, selayaknya kita berpegang pada Kitab Suci yang kanonnya ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang menerima kuasa infalibilitas dari Kristus untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:18-19, 18:18); dalam hal ini untuk menentukan kitab- kitab mana yang otentik dan isinya ‘mengikat’ bagi umat beriman, dan mana yang tidak. Sejak abad pertama, Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak mengikuti injil-injil yang lain daripada yang telah mereka terima dari para rasul (lih. 2 Kor 11:4 dan Gal 1:6). Injil yang lain ini adalah injil Gnostik dan Docetisme, yang berkembang menjadi ‘injil’ Barnabas di abad ke- 16. Kita harus mengingat bahwa Kitab Suci diberikan kepada Gereja, dan Gerejalah yang berhak menentukan kanonnya dan interpretasi kitab- kitab tersebut secara otentik. Ini semakin menunjukkan betapa Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh Magisterium Gereja Katolik; ketiganya adalah pilar Gereja, yang menjamin bahwa Sabda Tuhan diterima dan dilestarikan dengan murni dari awal mula sampai sekarang.
SALAM DAMAI KRISTUS.
Minggu, 15 November 2015
KRISTUS YG KITA IMANI = YESUS MENURUT SEJARAH
PENDAHULUAN:
Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of Hystori), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah The Five Gospels of the Jesus ' seminar dan buku karangan Dan Brown , Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!.
THE JESUS OF HYSTORI = THE CHRIST OF FAITH.
Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.
Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.
PEMISAHAN ''JESUS OF HYSTORI & JESUS OF FAITH''.
Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835 yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Kristen berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati disalib. Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.
Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.
Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.
PARA MURID YESUS TIDAKLAH MUNGKIN MENGARANG ''KETUHANAN'' YESUS.
Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:
1: Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD. Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah. Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).
2: Sangat tidak mungkin jika kita
berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab
manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu
kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka
tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh
sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang
mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak
mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.
3: Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian
mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat
dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan
penghormatan dari banyak orang.
4: Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth
mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak
terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu
kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia.
Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh
terjadi.
5: Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid
yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai
martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua
rasul Yesus, dan ke-empat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu:
satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan
mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai
menyerahkan hidup mereka.
apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.
YESUS MENYATAKAN DIRI-NYA ADALAH TUHAN, MELALUI BERBAGAI CARA:
Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:
1: Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun
dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah
adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan
bahwa Ia adalah Putera Allah.
2: Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi,
kepada-Nya Aku berkenan.”(Mat 3:17; Luk 3:22). Pernyataan serupa
kembali dinyatakan Allah Bapa pada saat Transfigurasi, Yesus dimuliakan
di atas gunung (lih. Mat 17:5; Mrk 9:7).
3: Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
4: Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi,
sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia
memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum
dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal
ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6,
dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator)
itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”,
pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya
sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’
diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
5: Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup,
suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu
sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang
Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan
dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,
Mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup: Kesempurnaan inilah yang
dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya,
“Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan
bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di
surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
6: Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad
(lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat
penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai
Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat
23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan
tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari
penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
7: Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri,
yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus
menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat
8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan
orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir
setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan
orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
8: Pada saat Ia menyembuhkan orang yang
lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa
(Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya
sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
9: Pada beberapa kesempatan, Yesus
menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan
kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud
untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
10: Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih
tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42;
12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa
hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
11: Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
A: Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan
“Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai
Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12),
Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik
yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan
dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok
Anggur yang benar (Yoh 15:1).
B: Yesus menyatakan diri-Nya sebagai
sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang
terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian
Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin
jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat
menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
C: Yesus menyatakan, “Aku adalah jalan,
kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau
tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri
sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah
Bapa.
D: Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati
dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang
datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
E: Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
F: Ketika Yesus diadili di hadapan orang
Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah,
Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
G: Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
H: Yesus mengatakan, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yoh 13:13).
12: Dengan demikian, Yesus menyatakan Diri-Nya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan.
Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai
keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di
dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu
sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
13: Dengan keberadaan Yesus yang
mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan
kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa
mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat
10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia
(lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang
mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap
orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang
tua kita sendiri.
14: Yesus menghendaki kita percaya
kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia
menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia
menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa,
“Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku
dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal
Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus
juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa
saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka
semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di
dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh
Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain,
seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri
mereka sendiri sebagai Tuhan.
15: Ketika Yesus menampakkan diri kepada
para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak
percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”.
Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia
sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya
agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20:
28-29).
16: Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman
(lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah
diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke
surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan
demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah
Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia
akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang
dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat
pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.
PARA RASUL YESUS, HANYA MENERUSKAN KESAKSIAN DAN AJARAN YESUS.
Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata
dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan
ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah,
dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan
tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas
gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, menjabarkan kisah
kebangkitan Yesus dengan menyebutkan juga adanya lebih dari 500 orang
saksi yang melihat bahwa Yesus telah menampakkan diri-Nya dimulai dari
hari ketiga setelah kematian-Nya (lih. 1 Kor 15:3-8). Rasul Paulus, yang
juga menjadi salah satu saksi itu, kemudian mengajarkan bahwa Yesus,
adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada
jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan
apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup
penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah
(Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus
(Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar
terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah
sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.
JADI KE-TUHANAN YESUS BUKAN BARU DIRESMIKAN DI AWAL ABAD KE-4.
Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan
rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang,
‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar
adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani
sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat
ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan
dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini,
maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah
Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar
300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme
ini. Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!
PENEGASAN DARI GEREJA KATOLIK.
Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!
Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini : bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia.
PENUTUP.
Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!
SALAM DAMAI KRISTUS.
Sabtu, 14 November 2015
DUA PERINTAH UTAMA: MENGASIHI TUHAN DAN MENGASIHI SESAMA
I: DUA PERINTAH UTAMA YG SERING KITA DENGAR, NAMUN SULIT UNTUK MELAKSANAKANNYA SECARA SEMPURNA:
Bacaan dari Kel 22:20-26; Mzm 18:2-4,47,51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40. Perikop dari Mat 22:34-40, yang juga dituliskan di Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28, terasa sangat akrab di telinga kita, karena sering kita dengar dan sering didengungkan dari mimbar, dan lebih tepatnya, karena di dalam dua perintah itu – mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama – terletak seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, meskipun dua perintah ini sangat sering kita dengar, namun mungkin sangat sulit untuk dilaksanakan. Padahal, kalau kita teliti, manusia secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Kodrat ini diangkat derajatnya oleh rahmat Allah dalam Sakramen Baptis, sehingga manusia dapat mengasihi Allah secara lebih sempurna (adi-kodrati), yang berakibat kemampuan yang lebih untuk dapat mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan dan sesama, itulah perintah dari Tuhan sendiri, yang menuntun manusia untuk dapat memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan dapat mengantar manusia ke dalam Kerajaan Sorga.
II: BACAAN MATIUS 22:34-44:
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
III: TELAAH MATIUS 22:34-44:
Dari perikop Mat 22:34-40, kita dapat melihat secara gamblang bahwa inti bacaan tersebut adalah jawaban Yesus bahwa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Di perikop sebelumnya – Mat 22:23-33 – kita melihat bahwa Yesus telah memberikan jawaban yang tepat, sehingga orang-orang Saduki yang bertanya tentang kebangkitan badan tidak dapat berkutik lagi. Walaupun orang-orang Farisi senang (lih. Mrk 12:38; Luk 20:39) bahwa orang-orang Saduki, yang berseberangan dengan mereka akhirnya bungkam karena jawaban Yesus, namun mungkin mereka juga kecewa karena keinginan mereka untuk menjebak Yesus ternyata tidak berhasil. Dan kemudian di ayat 24-25, kita tahu bahwa mereka berkumpul merancang pertanyaan untuk menjebak Yesus. Mungkin, jebakan kaum Farisi telah dirancang dengan sangat hati-hati, karena jebakan pertanyaan mereka tentang membayar pajak kepada kaisar (lih. Mat 22:15-22) telah gagal.
Kali ini, mereka bertanya tentang sesuatu yang dipandang sungguh sulit, yaitu “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ay. 36) Yesus kemudian menjawab bahwa hukum yang terutama dan pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay.37-38) dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (ay.39). Dengan jawaban ini, maka Yesus telah merangkum semua hukum Taurat, yang disebutkan dalam Ul 6:5 dan Im 19:18.
1: PERINTAH GANDA UNTUK MENGASIHI ADALAH MERUPAKAN HUKUM KODRAT:
Kalau kita meneliti sepuluh perintah Allah (Kel 20:1-17), maka kita dapat melihat bahwa hukum-hukum di dalam 10 perintah Allah adalah merupakan penjabaran dari hukum kodrat yang sempurna. Hukum kodrat ini adalah hukum atau peraturan yang terpatri di dalam setiap hati manusia. Dalam sepuluh perintah Allah, kita dapat melihat adanya perintah kasih dalam dua kelompok, yaitu hukum 1-3 adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan hukum 4-10 adalah perintah untuk mengasihi sesama. Urutan ke-10 perintah Allah tidak diberikan atas dasar kebetulan, tetapi menurut St. Thomas Aquinas, memang ada alasannya tergantung dari tingkatan prioritasnya. Untuk mengasihi Allah, kita harus melakukan tiga hal, yaitu:
(1) Tidak boleh mempunyai Allah lain, yang dituliskan: Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu;
(2) Harus memberikan kepada Allah penghormatan, yang dituliskan: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat;
(3) Kita harus beristirahat di dalam Tuhan, yang dituliskan: Kuduskanlah hari Tuhan. Dan untuk membuktikan kasih kita kepada Allah, maka kita harus mengasihi sesama seperti yang dijabarkan dalam perintah 4-10, yaitu:
(1) Kita harus mengasihi orang tua kita, yang dituliskan: Hormatilah ibu-bapamu;
(2) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perbuatan – baik dengan melukai seseorang, yang dituliskan: jangan membunuh; atau merusak perkawinan seseorang, yang dituliskan: Jangan berzinah; atau mengambil barang atau harta milik sesama, yang dituliskan: Jangan mencuri;
(3) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perkataan dan pikiran – melukai dengan perkataan, yang dituliskan: Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu; melukai sesama dengan pikiran, yang dituliskan: Jangan mengingini istri sesamamu dan Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.
Penjelasan yang lain dari 10 perintah Allah adalah, dalam mengasihi Allah, maka kita harus mempunyai
kesetiaan, penghormatan, pelayanan; dalam mengasihi sesama, kita harus
menjalankan tugas untuk wakil Tuhan di dunia ini dan menjalankan tugas untuk diri sendiri dan sesama dalam
melindungi kehidupan, kemurnian, Harta milik, kehormatan, melindungi kehidupan keluarga.
Sepuluh perintah Allah diberikan secara khusus dan ditulis di atas dua loh batu kepada bangsa Israel. Namun, perintah ini sesungguhnya bukan hanya dituliskan di atas dua loh batu, namun juga dituliskan oleh Tuhan di dalam setiap hati manusia, baik bangsa Israel maupun bangsa lain. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menegaskannya demikian “14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Rom 2:14-15) Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi sebenarnya terikat oleh hukum taurat, yang intinya adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dan memang itulah kodrat manusia.
II: MENGAPA HARUS SALING MENGASIHI:
Kalau manusia diciptakan dengan kodrat untuk dapat mengasihi Allah dan mengasihi sesama, maka pertanyaannya adalah mengapa Allah menciptakan manusia dengan kodrat seperti ini? Jawabnya adalah karena kita menemukan kebahagiaan kita di dalam kasih kepada Tuhan, dan tidak di dalam hal-hal lain, seperti: uang, kehormatan, kekuasaan, kesenangan, bahkan juga kebajikan. Kebahagiaan kita hanya ada dalam Tuhan, Maka kalau kita ingin mendapat penghiburan dan kekuatan di dalam hidup ini kita harus kembali kepada Tuhan, kita harus mengasihi Tuhan.
Cobalah kita cari orang yang terlihat sebagai orang yang paling berbahagia di dunia: tiliklah, apakah dia mengasihi Tuhan? Sebab jika ia tidak mengasihi Tuhan, ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh berbahagia. Itulah sebabnya banyak di antara orang-orang yang demikian kemudian dapat melakukan hal-hal yang tragis dalam hidup mereka. Sedangkan sebaliknya, jika kita menemukan orang kelihatannya paling tidak bahagia di mata dunia, namun kalau ia mengasihi Tuhan, maka ternyata ia adalah orang yang paling bahagia, dalam arti yang sesungguhnya, dalam segala sesuatu. Maka sudah selayaknya kita berdoa memohon agar Tuhan membuka mata hati kita agar dapat mencari kebahagiaan di mana kita dapat sungguh menemukannya, yaitu di dalam Tuhan sendiri.
Alasan lain, mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan kodrat untuk mengasihi adalah karena tanpa kasih, manusia tidak dapat mencapai Sorga. Begitu pentingnya kasih, sehingga rasul Yohanes mengatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” (1Yoh 3:14b) Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa untuk mendapatkan keselamatan, maka tidak ada cara lain, kecuali mengasihi. St. Agustinus menegaskan bahwa sama seperti manusia mempunyai dua kaki untuk berjalan, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat mencapai Sorga. Sama seperti burung mempunyai dua sayap untuk terbang, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat terbang ke Sorga. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa sama seperti orang-orang kudus di Sorga mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya, maka kita juga harus melakukan hal yang sama di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama sesungguhnya tidak terpisahkan. Rasul Yohanes menegaskan hal ini secara gamblang “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20).
III: TUHAN MEMAMPUKAN KITA UNTUK MENGASIHI ALLAH DENGAN: SEGENAPA AKAL BUDI, JIWA DAN HATI:
Perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi adalah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan diri kita, menempatkan Tuhan lebih utama dalam segala sesuatu, di mana saja, setiap saat dan dalam segala kondisi. Dan kalau bukti kasih kita kepada Tuhan dan tanda kita berdiam di dalam Allah adalah dengan menuruti segala perintah Tuhan (lih. 1John 2:3; 1Yoh 3:24), maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya perintah ini sangat berat bagi manusia. Namun, Tuhan tidak akan memberikan perintah yang mustahil, karena Dia menegaskan bahwa kuk yang dipasang-Nya adalah enak dan ringan. (lih. Mat 11:29).
Kunci dari kemampuan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama adalah karena Allah telah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Kita yang telah dibaptis telah menerima rahmat Allah yang begitu besar, seperti: menjadi putera/i Allah di dalam Kristus, disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, dibebaskan dari dosa asal, menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus. Rahmat dari Allah kemudian diperkuat dengan rahmat yang mengalir dari sakramen-sakramen yang lain, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dengan bekal rahmat Allah yang begitu luar biasa ini, maka sesungguhnya umat Allah telah dimampukan untuk dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi sesama dengan lebih baik lagi.
IV: TIGA TINGKATAN KASIH:
Apakah setiap orang dapat mengasihi Tuhan dengan derajat yang sama? Sama seperti adanya tingkatan dalam segala hal, maka setiap orang dapat mengasihi Allah dengan derajat yang berbeda-beda. Namun, menjadi tujuan dari umat Allah, agar kita semua dapat mengasihi Tuhan dalam derajat yang sempurna. Dari buku Christian Perfection and Comtemplation: According to St. Thomas Aquinas anda St. John of the Cross karangan Reginald Garrigou Lagrance dan dari tulisan St. Thomas Aquinas pada Summa Theology, II-II, q.34, a.9., maka kita dapat melihat tingkatan kasih:
a. Tingkatan pemula (beginners atau purgative).
Pada tingkatan ini, seseorang berusaha agar dia tidak jatuh ke dalam
dosa berat, dan juga berusaha untuk melawan kelemahan dan kecenderungan
berbuat dosa (concupiscences). Dalam tahap ini, seseorang masih
berfokus pada bagaimana caranya untuk menghindari dosa-dosa yang
dulunya sering dia lakukan. Sebagai contoh kalau seseorang mempunyai
kecenderungan untuk berbuat dosa melawan kemurnian, maka dia berjuang
setengah mati agar dia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama. Hal ini
dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: menghindari teman-teman
yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa yang sama, menghindari
tempat-tempat yang dapat membangkitkan keinginan untuk berbuat cabul,
menghindari kesempatan-kesempatan untuk dapat melakukan dosa tersebut.
Orang ini menyadari bahwa kalau dia jatuh ke dalam dosa berat yang sama,
maka dosa berat tersebut akan menghancurkan kasih. Dengan kata lain,
orang-orang dalam tingkatan ini senantiasa berusaha menghindari dosa
berat.
b. Tahap kedua (Illuminative Way).
Pada tahap ini, seseorang bukan lagi berfokus pada menghindari dosa,
melainkan pada bagaimana bertumbuh dalam kebaikan. Mereka membuat
kemajuan spiritualitas dalam terang iman dan kontemplasi. Seseorang pada
tahap ini mulai berfikir apa yang dapat dilakukannya untuk dapat
semakin memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Dia tidak lagi memikirkan
untuk menghindari dosa pornografi sebab pornografi tidak menjadi godaan
yang dapat menarik hatinya. Namun dia mulai berfikir, bagaimana dia
dapat memberikan kebaikan kepada sesama, sehingga dia dapat membantu
orang-orang yang mempunyai ketergantungan terhadap pornografi (dan dosa-
dosa berat lainnya). Orang yang dalam tahap ini, bukan hanya berfikir
untuk menghindari dosa berat, namun juga dia mencoba mengarahkan
hidupnya dan hidup sesamanya kepada Tuhan. Dia mencoba untuk
menghilangkan kecenderungan-kecenderungan di dalam dirinya yang
menghalanginya untuk bersatu dengan Tuhan. Dia bertumbuh dalam kasih
dengan cara berbuat kasih.
c. Tahap sempurna (Univitive Way / Heroic Love).
Dalam tahap ini, seseorang secara sadar tidak mau dan dengan segala
kekuatannya berusaha untuk menghindari dosa-dosa yang kecil (venial sins)
sekalipun. Walaupun kadang dia masih melakukan dosa kecil, namun
dosa-dosa kecil ini terjadi dengan tidak disengaja. Secara aktif dia
mencoba menghilangkan apa yang tidak sempurna dalam dirinya, sehingga
seluruh akal budi, perbuatan dan perkataannya ditujukan untuk
menyenangkan hati Tuhan. Dia setia terhadap inspirasi dari Roh Kudus,
dan menjalankan semua hal, termasuk hal-hal kecil dengan kasih yang
besar. Dia sekaligus lemah lembut namun juga kokoh dalam imannya. Dia
memandang rendah hal-hal dunia ini, dan secara aktif dan terus-menerus
mempunyai kontemplasi terhadap hal-hal ilahi. Dia mempunyai hati yang
besar (magnanimity), sehingga membuatnya dapat menyingkirkan
hal-hal dunia agar dia dapat semakin bersatu dengan Tuhan. Bahkan, dia
menginginkan persatuan abadi dengan Kristus melebihi apapun di dunia
ini. Dalam tahap ini, seseorang juga mempunyai derajat kerendahan hati
yang sempurna. Walaupun kehidupan spiritualitasnya berkembang dengan
sempurna, namun dia justru melihat dirinya yang paling rendah dari
manusia lain. Karena hidupnya senantiasa dipenuhi dengan sinar ilahi,
maka dia dapat melihat apa-apa yang tidak sempurna dalam dirinya secara
jelas dan pada saat yang bersamaan dia melihat Allah yang adalah
segalanya. Dalam kondisi seperti inilah, maka orang dalam derajat kasih
yang tertinggi juga akan mempunyai derajat kerendahan hati yang
tertinggi.
Yang mungkin tidak kalah pentingnya adalah tiga tingkat kesempurnaan
kasih di atas juga berhubungan dengan kasih terhadap sesama. Dalam
tingkat awal, seseorang akan mengasihi orang -orang yang ia kenal tanpa
mengabaikan orang-orang lain. Di tingkat kedua, seseorang dapat
mengasihi orang-orang asing yang tidak dikenalnya. Dan di tingkat
kesempurnaan, ia dapat mengasihi musuh-musuhnya. Yang perlu juga menjadi
catatan adalah seseorang dapat bertumbuh dari tingkat awal ke tingkat
yang lebih tinggi, namun orang juga dapat jatuh dari tingkat yang lebih
tinggi ke tingkat yang paling awal. Hanya rahmat Allah dan kesediaan
untuk terus bekerjasama dengan rahmat Allah, dan juga tujuh karunia Roh
Kudus, yang memungkinkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan kasih.
V: AJAKAN UNTUK SALING MENGASIHI ADALAH PANGGILAN UNTUK HIDUP KUDUS:
Mengasihi Allah dan sesama merupakan hukum yang terutama bagi umat
beriman, dan merupakan panggilan yang diserukan oleh Gereja kepada semua
orang yang berkehendak baik. Ini jelas disebutkan di dalam Konsili
Vatikan II, tentang Gereja, di bab V, mengenai Panggilan Umum untuk
Kesucian dalam Gereja:
Tuhan Yesuslah Guru dan Teladan ilahi
segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup, yang dikerjakan dan
dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing
murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna,
seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada
semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka
(lih. Yoh 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah
bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan
rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam baptis iman
sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat
ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima.
Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi
orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai
orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan,
kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12);
dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih.
Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua
bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belaskasihan
Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat
6:12).
Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih.
Dengan kesucian sedemikian ini sebuah kehidupan yang lebih manusiawi
dapat dimajukan di dalam kehidupan masyarakat di dunia ini. Untuk
memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga
yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya
dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan
kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama.
Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah
berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang
melalui hidup sekian banyak orang kudus.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 40).
VI: MARI MENGASIHI:
Dari pembahasan di atas, maka sudah seharusnya kita berjuang untuk
melaksanakan perintah Kristus yang utama, yaitu untuk mengasihi Tuhan
dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti
diri sendiri. Ini adalah kekudusan yang kepadanya kita semua dipanggil,
seturut dengan kehendak Allah (lih. 1Tes 4:3). Hanya dengan mengasihi,
manusia dapat memperoleh arti hidup, yaitu kebahagiaan di dunia ini dan
pada saatnya nanti, akan kebahagiaan abadi di Sorga. Mari, mulailah dan
bertumbuhlah dalam kasih, sebab kita semua diciptakan untuk mengasihi.
DOA:
Tuhan adalah segala cinta, aku mencintai Engkau lebih dari segala
sesuatu dan dengan segenap hati, sebab Engkau maha baik dan pantas dicintai.
Karena cinta akan dikau maka aku pun cinta akan semua orang, sebagaimana aku
cinta akan diriku sendiri. Tuhan, tambahkanlah selalu cintaku. AMEN.
Langganan:
Postingan (Atom)






